“Sayang seharusnya engkau berada di sisiku memandangi bahwa rangkaian banyu biru itu menari-nari di balik remang-remang kabut putih suci yang mulai memudar abadi menghasut raga untuk memberontak merdeka duhai yojanaku!”
Sore itu ketika sang surya berada di belakang awan hitam, hujan membasahi mantel ponco biru milikku bersama pasangan hidup yang orang-orang sering menyebutnya sebagai si kuda besi. Rintikkan berkah dari Ilahi itu agaknya mencoba mengingatkan hamba-Nya yang lemah ini bahwa keberagaman tingkah laku alam adalah sebuah keindahan yang tak ternilai batasnya. Indah dan begitu mempesonanya Irung Petruk (Jawa: Hidung Petruk) dan Cemoro Sewu (Jawa: Seribu Cemara) sepasang akses jalan menuju Gunung Lawu (+3.265 meter) sebagai puncak bumi penghubung dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Kulo bade dumateng ingkang ladang rumiyin, Nyai” (Saya hendak pergi ke ladang dulu, Nyai), legenda itu berawal ketika Kyai Pasir berpamitan dengan sang istri pada suatu pagi. Dalam perjalanannya kyai itu menemukan sebutir telur (berbentuk seperti telur ayam) di bawah sebuah pohon yang akan ditebang karena menghalangi jalannya menuju ladang. Sebuah keanehan karena dia menganggap bahwa di hutan ini tidak terlihat adanya binatang petelur.
Dia pun mengurungkan niatnya dan kembali ke rumah dengan membawa telur tersebut. Setiba di rumah Kyai Pasir dan isteri memasaknya untuk sarapan. Sesaat setelah itu dia pergi menuju ladang. Ketika telah sampai di tempat, Kyai Pasir mendadak merasakan panas dan gatal-gatal yang sangat menyakitkan tubuh. Dia pun berguling-guling di tanah ladang. Kejadian gaib menimpa dan membuat sekujur tubuhnya berubah menjadi ular naga besar.
Begitu juga dengan apa yang dialami Nyai Pasir, yang menyusul dimana suaminya berada. Sehingga keduanya pun bergeliat-geliat bersama menahan ketidakberdayaannya. Begitu mengerikannya hingga menyebabkan tanah ladang menjadi berserakan dan membuat sebuah cekungan besar. Dari cekungan itulah air menyembur mengubur ladang milik Kyai Pasir. Konon kedua tubuh ular naga raksasa itu juga ikut terkubur di dalamnya.
Pada hari Minggu tanggal 17 Oktober 2010 disanalah di sebuah ladang seluas 30 hektar milik sepasang kekasih itu yang berubah menjadi sebuah telaga bernama Telaga Pasir adalah tujuan kami bertiga, aku dan kedua sahabatku (Angga Yanuar Triesmarandita dan Ginanjar Adi Nugroho). Secercah perjalanan bertajuk Tour de Telaga Sarangan.
Sebuah destinasi wisata yang lebih dikenal dengan Telaga Sarangan itu terletak di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Dengan menghirup udara sejuk pada ketinggian +1.287 meter dari permukaan laut (dpl) seakan menjadi terapi untuk menghapus dosa-dosa polusi dalam paru-paruku. Sungguh bisikan nama Sang Maha Agung di hati ini tak ada henti-hentinya.
Kamera amatir cell phone mencoba mengabadikan sekaligus mengakrabkan kami dengan sudut-sudut telaga sedalam 28 meter. Jarak yang ditempuh dari jantung kota Magetan adalah sekitar 17 kilometer ke arah barat dan kurang lebih 15 kilometer ke arah timur apabila rute perjalanan ditempuh dari Tawangmangu, Kabupaten Karangayar. Berhati-hatilah dan bersabarlah dalam melakukan touring karena kondisi medan merupakan pegunungan yang membuat akses menjadi curam bahkan sangat curam.
Nasi pecel dan sate si lucu kelinci dengan ditemani kopi tubruk siap menghangatkan perut sesaat memasuki area bersuhu rata-rata antara 18 hingga 25 derajat Celsius. Kaos bertuliskan I Love Sarangan, berbagai kerajinan, dan pernak-pernik ala Sarangan siap menjadi buah tangan untuk pribadi, kekasih, kawan serta keluarga. Sewalah perahu boat atau perahu bebek untung mengarungi betapa menawannya telaga itu. Dalam mengelilinginya gunakan motor pribadi atau sewa kuda tunggang. Jangan lupa untuk selalu melakukan penawaran dalam melakukan berbagai transaksi karena berkah dan ikhlas kita sebagai wisatawan adalah berkah dan ikhlas mereka sebagai penjual.
Waktu yang tepat untuk berkunjung secara ritual adalah ketika upacara “Bersih Desa” atau Labuh Sesaji diselenggarakan yaitu setiap setahun sekali pada hari Jum’at Pon di bulan Ruwah. Ritual ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat desa atas berkah dari Yang Maha Kuasa atas segala berkah yang diberikan dengan wujud pelarungan persembahan ke dalam telaga yang diselimuti oleh dua gunung yaitu Gunung Lawu di sebelah barat dan Gunung Sido Ramping di sebelah selatan.
Akhirnya awan gelap memisahkan kami dengannya. Langkah kaki pun terpaksa menjauh selaras hati ini berbisik lirih, “sayang seharusnya engkau berada di sisiku memandangi bahwa rangkaian banyu biru itu menari-nari di balik remang-remang kabut putih suci yang mulai memudar abadi menghasut raga untuk memberontak merdeka duhai yojanaku!”


